Rabu, 30/07/2014
JADWAL LIGA Font Size : A- A+
Kamis, 28/02/2013 21:00:00
Putra Guyup, Kumpulannya Orang Gunung Kidul
Penulis : Caesar Sardi
Bupati Gunung Kidul, Ir Darmakum di tengah pemain Putra Guyup.
Foto : Dok. Tabloid BOLA

Di bidang wisata umpamanya, mereka punya pantai Krakal, Kukup, serta Baron yang banyak menawan karena panoramanya yang indah di pantai selatan Samudra Indonesia. Belum lagi dengan obyek sarang burung walet, yang terkenal sangat mujarab untuk pengobatan penyakit dalam melalui masakan yang cukup mahal pula. Ini terdapat di daerah terpencil kecamatan Rongkop.

Kemajuan masyarakatnya rupanya juga terus meningkat. Dan mereka yang sudah meninggalkan desanya untuk menuntut ilmu, bekerja, dan bermukim di kota-kota besar, tetap tak bisa lepas dari ikatan dan kebudayaan serta emosional dengan asalnya. Itulah sebabnya muncul Ikatan Keluarga Gunung Kidul yang diketuai oleh Sukandi SH sejak Desember 1970.

Modalnya cukup sederhana: lewat arisan. Tapi lama kelamaan ikatan ini memerlukan wadah lebih luas. Maka dibentuklah kemudian sebuah yayasan dengan nama Guyup. Dan kemudian lahir pula sebuah klub sepakbola dengan nama Putra Guyup, 1982. Ketika itu menurut ketuanya, Sudarmono, memang anggotanya terdiri orang-orang Gunung Kidul. Tapi bukan hanya yang berdomisili di Jakarta saja, melainkan meluas di lingkaran Jabotabek.

Guyup kemudian mencoba adu nasib masuk anggota Persija Barat. Hasilnya memang masih membingungkan, karena menduduki urutan ke 11 dari 18 peserta. Tapi setelah terbagi dalam dua divisi, Guyup masuk divisi 1, mulailah merayap prestasinya, bahkan tak tanggung-tanggung menjuarainya. Maka mereka naik ke divisi utama pada musim kompetisi 1984.

Sampai pertengahan putaran pertama sekarang, Guyup masih berada di urutan keempat dari delapan tim peserta.

Untuk bulan puasa ini, Guyup tetap melakukan latihan tiap Rabu dan Sabtu di lapangan Segitiga Senayan. Pelatihnya Bambang Sucipto, dulu pernah menjadi kapten Persija. Namun porsi latihan jelas diturunkan mengingat ada anggotanya yang melakukan puasa.

Bagi Guyup walau pernah menjuarai kompetisi divisi I pada tahun periode 1982-1983, pernah pula nyaris undur diri. Pasalnya menurut pengakuan Sudarmono karena keringnya dana yang tersedia. Tapi berkat keuletan beberapa simpatisan daerahnya seperti Sukandi SH, Hargono, Hadi Sukamto, Sudadi SH, dan pribadinya sendiri, Guyup selamat dari kehancuran. "Memang kita membutuhkan sponsor putra daerah," tukasnya.

Bupati Gunung Kidul Ir Darmakum, kabarnya juga menaruh simpati kepada paguyuban ini. Sebab hampir pada setiap tahun sekali, diadakanlah saling kunjung mengunjungi lewat olahraga ini.

Untuk target kompetisi kali ini, Sudarmono yang mengaku wiraswasta ini hanya memberikan sasaran "4 besar". Ketika dikatakan pemainnya terlalu banyak menunggu, dalam pertandingan ia tak mengelak dari kenyataan itu. Katanya, ini seperti sifat orang Jawa saja. Tapi untuk menghadapi putaran seusai lebaran mendatang, Sudarmono nampaknya sudah pasang kuda-kuda.

"Kami telah siapkan pemain-pemain baru, dan kita pompa untuk lebih berani dalam bermain," tukasnya lagi. Tapi toh ia lebih merendah dengan berkomentar "asal tidak jadi juru kunci" mengenai peluang selanjutnya.

Guyup juga boleh berbangga bahwa salah seorang pemainnya yang juga top scorer di Kompetisi Persija Barat, Jayahartono kini bermain di Niac Mitra Surabaya bekas juara Galatama.

Dalam usaha lebih dekat dengan masyarakat, Guyup ini telah membuka diri bagi orang di luar daerah asal Gunung Kidul. Untuk masa sekarang memang diakui sementara banyak yang masih berasal dari daerahnya.

Tapi dapat dibanggakan tersendiri, walau kumpulan orang Gunung Kidul, Putra Guyup merupakan salah satu pemegang andil berdirinya perserikatan Persija Barat setelah terpecah dari Persija Selbar sekitar 1982.

Ikatan Guyup sebenarnya juga boleh berbangga diri sebab telah berhasil mengadakan semacam pekan olahraga antar anggotanya dan telah berjalan tiga kali dengan selang waktu 3 tahun.

"Melalui olahraga memang rasa persaudaraan bisa lebih dekat. Sehingga walau kami ada di Jakarta, kita dapat tetap memberikan sumbangan bagi nama daerah," kata Sudarmono menutup pembicaraannya.

(Penulis: Slamet Hartono, Tabloid BOLA edisi nomer 15, Jumat 8 Juni 1984)